Ahok resmi jadi tersangka

Rabu 16 Nov 2016, 10:21 WIB
Tetapkan Ahok Jadi Tersangka, Keputusan Penyelidik Polri Tidak Bulat
Jakarta - Bareskrim Mabes Polri menetapkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tersangka dugaan penistaan agama. Kesimpulan dari para penyelidik itu tidak bulat.
"Ada perbedaan tajam dari pihak ahli tentang ada tidaknya unsur niat. Hal ini menyebabkan ada perbedan pendapat dari tim penyelidik 27 orang," kata Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto dalam konferensi pers di Gedung Rupatama Mabes Polri, Rabu (16/11/2016).
Penyelidik Bareskrim Polri sudah mengundang 29 orang saksi dan 39 orang ahli. Pada akhirnya, kesepakatan diambil yaitu Ahok sebagai tersangka.
"Dicapai kesepakatan, meski tidak bulat," tegasnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kapolri Jendera Badrodin Haiti yang memberi pernyataan setelahnya. Ahli pun berbeda pendapat dalam menilai dugaan penistaan agama ini.

"Ahli bahasa berbeda pendapat, ahli agama berbeda pendapat. Saya mendapat laporan, di kalangan penyelidik terjadi dissenting opinion. Ada yang katakan pidana ada yang katakan tidak. Sebagian besar mengatakan pidana," ucap Tito.
Kini, Ahok dicegah untuk tidak keluar negeri. Hal ini dilakukan untuk langkah penyidikan selanjutnya.


Banyak inbox kesaya meyakinkan bahwa Ahok kali ini akan jadi tersangka. Saya biasanya hanya baca sambil senyum-senyum saja, karena jika Ahok jadi tersangka mereka seperti ejakulasi sesudah onani begitu lama. Memang itu keinginan mereka, yang pertama Ahok harus jadi tersangka dan yang kedua tersangkakan Ahok. Saya jawab dengan geli, "So, kalau Ahok jadi tersangka memangnya kenapa?".
Sebenarnya buat saya, lebih bagus Ahok jadi tersangka. Karena kalau tidak, maka akan banyak plintiran isu bahwa Kepolisian yang posisinya di bawah Presiden, di intervensi oleh Jokowi. Ini akan memicu gelombang demo lebih besar dengan headline "Jokowi melindungi penista agama" atau lebih ekstrim lagi "Jokowi musuh Islam". Beda kalau Ahok dijadikan tersangka oleh Polisi.
Dengan proses Ahok menjadi tersangka, maka barisan mereka akan terpecah dua bagian. Bagian unyu-unyu yang kemaren demo karena Ahok menista agama, akan puas karena sudah ejakulasi. Sedangkan bagian abu-abu yang masih onani, jelas akan sulit untuk mendapatkan gelombang demo sebesar 4 november kemaren karena si unyu-unyu sudah sadar diri.
Dari status Ahok menjadi tersangka, maka akan jelas kelihatan mana yang benar-benar berniat "membela agama" dan mana yang "menunggangi" isu penistaan agama. Jika terpecah, baru kelihatan tuh aktor-aktor politiknya yang tetap tidak puas sebelum Indonesia rusuh.
Jika Ahok jadi tersangka, maka Kepolisian akan lepas tangan sehingga isu intervensi Presiden akan bisa diredam. Untuk selanjutnya proses akan dibawa ke pengadilan yang tidak berada di bawah kewenangan Presiden, sehingga lebih independen.
Lagian, status tersangka tidak akan membatalkan pencalonan seseorang dan itu sudah ditetapkan KPUD. Lah namanya tersangka, masih perlu pembuktian lebih lanjut benarkah seseorang berbuat kejahatan.
Pertarungan masih panjang, butuh tahunan, sebelum seseorang ditetapkan bersalah oleh pengadilan...
Disinilah seninya permainan catur.
Pertahanan sengaja dibuka supaya musuh masuk dan menyerang. Musuh yang merasa sudah diatas angin, masuk dan memakan umpan sebuah pion yang disediakan. Ketika musuh sudah masuk, maka kurung dia sehingga tidak bisa melangkah kemana-mana, kecuali mengorbankan diri dengan memakan bidak lain daripada rugi bandar.
Jadi, awalnya Jokowi mereka paksa untuk makan buah simalakama, nanti mereka yang akan dipaksa makan buah sikelemele, yaitu dimakan bapak jadi kuda, gak dimakan anak lebaran sama kuda. Pucing kan, kepala kuda?.
Biar gak pucing, ceruput kopi dulu...
jangan-jangan
Kapolri: Kalau Ada yang Minta Ahok Ditahan, Jangan-jangan...

RABU, 16 NOVEMBER 2016 | 12:30 WIB
Kapolri: Kalau Ada yang Minta Ahok Ditahan, Jangan-jangan...
Jenderal Pol Badrodin Haiti menghadiri pelantikan Tito Karnavian sebagai kepala Polri, di Istana Negara, Jakarta, 13 Juli 2016. Tempo/Aditia Noviansyah
Jakarta - Kepala Polri Jenderal M. Tito Karnavian mengatakan tim penyelidik yang berjumlah 27 orang sepakat tidak menahan tersangka Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Alasannya, Ahok kooperatif selama proses penyelidikan dan polisi tidak khawatir Ahok menghilangkan barang bukti, sebab barang bukti berupa video sudah di tangan polisi.
Tito pun menyatakan tidak ditahannya Ahok sudah sesuai dengan prosedur hukum dan itu adalah kewenangan dari penyidik.
"Kalau ada yang minta (Ahok) ditahan, jangan-jangan ada agenda lain," kata Tito di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 16 November 2016.
Tito mengatakan sebagai tersangka, Ahok juga memiliki hak asas praduga tak bersalah.
"Jika ada pihak-pihak memaksa yang bersangkutan ditahan, maka saya mengajak mari kita semua berpikir sangat rasional, logis, dan menghargai langkah-langkah dan mempertanyakan, kalau ada desakan-desakan itu, kemungkinan memiliki motif lain dan itu inkonstitusional," kata Tito.
Badan Reserse Kriminal Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Ahok dikenai Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).